Skip to content
Dari Gagasan Menjadi Warisan
Follow Social Media :
subdesk2-elsufi
Karya: N.Marewo

Dana Mbojo, Dana Mbaru

Karya: N.Marewo

Dana Mbojo, Dana Mbari
Dana Mbojo tanah keramat
Tiap inci tanah keramat dijaga para penunggu
Harimau yang menginjak Dana Mbari akan berubah menjadi Domba

Dana Mbojo tanah bertuah
Seluruh penghuninya berdarah Ksatria
Jagoan dan Ksatria ditanah keramat lugu-lugu dan sederhana
Kebaikan dan kesederhanaan sering disalah tafsirkan

Tanah Bima tanah tua
Orang-orang yang berniat busuk pasti celaka
Di Dana Mbari segala yang tersembunyi akan terkuak lewat isyarat air, angin dan api
Penipu, pecundang, penghianat, pembohong, dan koruptor pasti merana

Negeri ini bukan sembarang negeri
Bungkus kelicikan serapi-rapinya
Siasati konspirasi selihai-lihainya
Tapi ingat, Roh tanah ini akan mengejar hingga ke neraka

Dana Mbojo berselendang akhlak, Berkerudung kebaikan
Seperti wanita agung yang terlindung rimpu dan kain jilbab
Manusianya menghargai keringat, senang bekerja keras dan rendah hati
Seperti para lelakinya yang tak mudah menyerah

Dana Mbari bernafaskan akhlak dan bernadi moral
Udara, air dan apinya milik kebaikan
Menolak kekotoran dan niat buruk
Darah kotor para penjahat,
Arwah para pengkhianat tak diterima di tanah ini

Tanah kita meranggas berselimut kemarahan
Penghuninya tak lagi mengindahkan sesama
Tercemar udara dan hasad kedengkian
Keringat, air mata dan derita nurani tercampakan

Negeri ini Tanah sederhana
Tak butuh orang-orang yang gila kursi dan menumpuk harta
Tak memerlukan mereka yang sombong dan omong kosong
Negeri ini tak butuh pembual

Anak-anak negeri hilang kendali
Generasinya kebimbangan habis teladan
Terbantai kupon putih dan pil anjing
Virus ganas yang ditinggalkan para pendurhaka

Hanguskan syaraf mereka
Dengan minuman keras dan narkotika
Adik-adikku kehilangan jejak
Kata-kata keramat tercemarkan, digadai dan dilelang dimimbar-mimbar

Generasiku kebingungan –gelisah
Akibat itikad politik yang serakah
Tak bersendi akhlak kebaikan

Kakaku tak mensyukuri nikmat
Rejeki dihamburkan dimeja judi
Menghiasi diri dengan barang mewah
Membiarkan tetangganya kelaparan

Membiarkan kaum kerabat hidup dan mati sengsara

Abang-abangku tak belajar dari musibah
Frustasi menghancurkan diri memamah racun
Anjuran bersabar sering tak dihiraukan
Isyarat alam dianggap cemoohan

Kita lupa apa dan siapa kita
Wajah kita di cermin hati tak lagi kita kenali
Kita lupa dimana kita berasal
Lupa alam kekal yang akan dituju

Wajah-wajah legam terbakar nafsu
Melupakan tetuah tempat berasal

Tengok anak-anak kita ngebut-ngebutan
Melupakan buku-buku, sebab ijasah sarjana diperjual belikan
Masalah gelar urusan rupiah
Mencari kerja pakai ongkos

Anak-anak frustasi tak bisa berbangga
Sebab tak dididik menghargai kwalitas
Bertebaran saling menggertak
Lihat mereka yang di merk dengan tattoo

Kupingnya bocor ditusuk anting
Ibunya terjerat rentenir
Adik-adiknya yang belum tamat SMU dihamili pendatang
Ayahnya mampus kecanduan alcohol

Kakaknya masuk bui mencuri ayam
Dipinggangnya terselip belati, tak tahu mana kawan mana lawannya.

Dunia tak ramah lagi
Wabah duka bersetubuh dengan awan
Senyum ceria generasi Mbojo berpindah pada iklan dan film sampah ditelevisi

Canda cerianya terbawa angin menjadi rumus untuk menghitung lottere
Pengangguran menindih, makin banyak alasan untuk halalkan segala cara

Lihat perempuan berwajah murung itu
Gelisah terlambat datang bulan
Pada malam yang gerimis, perempuan dana Mbojo diturunkan dari mobil
Pick Up dekat alun-alun

Seperti seikat kayu bakar yang dibanting, bunting entah dihamili siapa

AjaibÂ….bayi-bayi ajaib menggelantung ditanah ini

Anak-anak ajaib berdesakan ditanah tua

Kita tak hendak menjadi anak-anak durhaka
Tidak pada ayah dan bunda
Kita tak hendak menjadi adik-adik yang durhaka
Tidak pada abang-abang dan kaum kerabat

Tapi tolongÂ…Â…
Ajari kami bermain bersama
Sebab kami tak mungkin tumbuh tanpa akar

Lihat abang-abang kita menggadai pegunungan
Menjual hutan, melelang generasi dan tanah pusaka untuk mobil rongsokan
Lihat mereka mengendarai mayat-mayat generasi

Menjujung benda-benda
Bersilat lidah campakan nurani
Untuk kepentingan jangka pendek
Melelang akidah, diadu domba oleh alasan kerjasama dengan antek-antek

imperalis

Lihat mata anak-anak yang silau terkubur iklan
Tergoda program televisi
Tak mengerti mana akarnya
Waktunya habis bersama benda elektronik
Ayahnya menghanguskan uang Negara

Putri-putrinya dihamili germo
Isyarat apa yang kamu dapatkan?
Apa yang sudah kita pahami?
Mereka tak berkemudi, Tuan

Tak punya contoh –linglung

Remuk tak berbentuk akibat ulah kita

Dana Mbojo Dana Mbari
Dana Mbojo Tanah Keramat
Dana Mbojo tanah tua
Dana Mbojo tanah bertuah

Anak-anak tanah tua saling membantai karena kampungnya dibatasi parit
Anak-anak tanah tua saling memamah akibat dusunya berbeda nama
Burung-burung bangkai membagikan uang dari luar negeri hingga ke desa-desa
Nyamuk, kutu busuk, kecoak, lalat tertawa kecikikan

Coba kamu lihat nenek tua yang membawa cucunya depan bangunan yang ia tak kenali
Membungkuk minta uang
Katanya ada bantuan luar negeri
Tak kenal siapa ayah dan ibu angkat cucunya

Mulutnya yang berbau sirih tak dapat menyebut nama asing
Anak panah bergambar dollar merobek jantung janin-janin dalam rahim
Generasiku diterpa badai tiada henti

Tak habis-habis dihasut dan dikebiri
Tetapi malah kamu sibuk menjilat
Menggonggong rebut proyek dan jabatan

Hitung mereka yang keluar barisanÂ…!!!
Hitung mereka yang akan keluar barisanÂ… !!!

Tanah Bima bunda abadi
Anak-anaknya malu berjalan kaki
Gengsi bersepeda
Berdesakkan dijalan raya menggadai nyawa

Untuk sepotong sanjungan
Adik-adikku malu apa adanya
Digiring keluar kota
Menembus bensin dan sadel dengan darah perawan
Membayar gengsi dengan iman

Tanah Bima bunda abadi
Kami disini berkumpul dalam gelisah akibat orang tua kami saling menyikut
Kami disini berkumpul dalam Tanya karena orang tua kami suka dipuji

Dana Mbojo Dana Mbari
Merah Darah berselimut kebimbangan

Kami tak hendak menjadi anak-anak durhaka
Kami anak-anak para ksatria
Tak hendak bertanya dalam darah
Tak ingin melihat air mata
Kami anak-anak ksatria

Minta diajar menghargai diri dan memegang kata
Bukan contoh keserakahan
Kami anak-anak ksatria
Mohon diajar ber-istigfar

Dana Mbojo Dana Mbari

Dana Mbojo Dana Na Mbari
Nenti kacia

Lailahaillah….. Muhammadarasulullah…..

Nenti kaciapu…. Nenti….

Dana Mbojo Dana Mbari

Dana Mbojo Dana na mbari

Dana Mbojo Dana ma Mbari

Kidung Rindu Kampung Halaman

Karya : Junaidin, M.Pd

Hari ini rasanya sedikit melelahkan, tak ada suara hikmah yang menyambangi hariku seperti biasanya. Semua peluh rasanya menumpuk dan bertengger sekujur tubuh. Azan Zuhur lantas menyela merdu.  “Hayya Alash    Slahah…” sejenak aku tertegun, mengapa hatiku begitu sukar, padahal sabar dan salat adalah obat letihku dari hirup pikuk kefanaan ini. Aku bergegas menyambangi sajadah—di lantai dingin bertikar karpet tipis. Sosok lelaki hebatku tetiba hadir dalam sujud, ia… yang kusebut ayah. Ada rindu menghujah uluh hati—bersarang tepat di dada, menuntun jemariku berzikir pada-Nya seraya berdo’a semoga ia baik-baik saja.

Berbekal rindu, langkahku tertuntun menelusuri jalan setapak ditemani barisan ladang jagung dan rindangnya pepohonan. Langkahku kemudian terhenti di sebuah gubuk tua di tepi air terjun “Mabu La Mbunu.” Ya, air terjun ini tidak begitu terekspos oleh media. Lokasi eksekusi mati masyarakat Wawo yang melawan penjajahan Jepang pada 1943 ini memang sedikit mengerikan dan terjal. Benar, lokasi eksekusi mati, ini adalah jalur akomodasi dan pertahanan Penjajah Jepang pada masa lalu. Dibuktikan dengan beberapa goa peninggalannya,  “Karombo Nipo”. Namun kengerian itu hilang karena angin sepoi yang membasuh jiwa, ditambah  gemericik air terjun menarik relungku tetiba hangat.

Sepasang mata dengan wajah keriput tersenyum menyambut kehadiranku. Usia yang tak lagi muda dan rambut yang dipenuhi uban menyekat pandanganku sejenak. “Assalamu’alaikum…” sembari memelas asih salamku terjawab, “Waalaikum salam..” dengan suara lirihnya menjawabku. “Ayah Lagi Apa, menyeduh kopi?” pertanyaanku hanya dibalas dengan senyuman. Seduhan dua gelas kopi hangat khas Bima pun akhirnya mendarat di atas tikar lusuh anyaman daun pandan. “Ayo, Nak.. di minum!” Tampak jelas, beberapa ruas giginya yang telah gugur termakan usia. “Wildan Tumben menemui ayah?” tatapanya berubah serius sembari menyeruput. “Iya ayah, aku tiba-tiba rindu padamu.”

Batang tebu dan padi yang mulai menguning sedikit bergoyang, seolah mereka mengerti aku memang sedang membutuhkan nasihat semesta. Dengan perlahan, ia menegurku, “sudah.. minum dulu kopimu, baru nanti bicara!” Sontak aku serasa terbawa pada ingatanku 25 tahun silam, ketika mereka baru bercerai dan aku harus memikul rinduku pada ayah dan ibu.

Setiap pagi dan petang aku harus menyambangi mereka, sekarang pun begitu. Tak ayal… mereka selalu menasihatiku satu hal, “Nak, jika kelak engkau membangun sebuah keluarga, berusahalah untuk saling mengerti. Jangan Cuma mempertahankan ego dan gengsi, cukup kami. Ntaupu Maja Labo Dahu (milikilah rasa malu dan takut)”. Air matanya ikut mengiringi.

Ingatanku sontak teringat pada kondisi Bima ku hari ini, di tengah pesatnya inovasi dan teknologi super smart society 5.0, wajah-wajah rintihnya dapat kusaksikan jelas dalam genggamanku. Bima ku adalah salah satu penyumbang terbesar janda dan duda di Indonesia, di mana kasus pelecehan seksual anak di bawah umur makin menjadi-jadi, sama seperti awal 2021 lalu. Rata-rata 90% pelakunya adalah kerabat dekat, ayah, paman, tetangga, teman, atau pacar yang hanya sekejap menutur sapa di dunia maya dengan dalih, “Pata ba piti cumpu kai raka ba peto” (mengenal karena uang, tapi malah terjebak).

Semua seolah tersulut birahi tak terbendung, hingga ratapan kehancuran masa depan mereka terbiaskan.  Aku tertegun, bisakah Bima ku kembali mekar dengan “cua iu ra eda kai bae ade, dodo ninu kantaba kai ade.”

Suara seruput kopi hitam hasil kebun sendiri itu menyela kembali, “sruuut….” Jam di tanganku menunjuk angka 15:59 WITA. Aku dan ayah masih saja memandang jauh arah Asi Mbojo (Istana Kerajaan Bima).

Ayah bertanya padaku, “maukah engkau mendengar kisah yang diceritakan leluhurmu pada ayah?” sembari menghabiskan batang rokok terakhirnya. “Iya ayah, akan aku dengarkan. Kisah apa itu kiranya ayah?” tanyaku lagi.

Ayah kemudian bercerita tentang kisah pelantikan Raja Bima tempo dulu yang begitu dramatis dan menegangkan. Ketika seorang raja hendak dilantik, ia akan diarak ke pasar bahkan tanpa memakai baju. Segala cacian dan hinaan akan mendera sang raja untuk mengingatkanya tentang tanggungjawab besarnya sebagai pemimpin masyarakat Bima. Aku tak habis pikir, bagaimana ronggaku menyaksikan  dilantik dengan kapak besar bertengger di lehernya.

“Ayah, memangnya kenapa raja harus dilantik dengan cara seperti itu?” tanyaku sambil penasaran.

“Ayah juga tidak tahu pasti, Nak.. menurut kakek dulu, mungkin untuk mengingatkan sang raja untuk memiliki rasa Maja Labo Dahu (malu dan takut). Malu jika harus berbuat dzolim kepada rakyatnya, dan takut pada Allah SWT yang selalu menyaksikan,” imbuh ayah.

Dugaanku mungkin saja, falsafah itu juga yang memicu munculnya selogan, “Tohopa Ra Ndai, Sura Dou Labo Dana Mbojo”. Aku semakin paham, bagaimana Raja-raja Bima dahulu membangun Kharismanya. Rupanya Islam telah menapak jauh dalam bingkai kesederhanaan adab. Petuah-petuahnya telah berhasil mengukir cinta di setiap penjuru, seolah alam ikut tunduk bersama bakti sang raja. Terdengar bunyi terompet pengabdian dari tujuh penjuru pagar Bima.

Tak terasa begitu asyik bercerita, kuseduh kembali kopiku. Ternyata, gelasku menyisahkan ampas hitam pekat. Ayah tertawa terpingkap-pingkal melihatku, ampasnya membekas padaku seperti kumis tentara belanda yang juga sempat mengurung leluhurku. Aku bertanya kembali padanya, “ayah, memangnya benar kalau raja Bima itu selalu dilindungi oleh para penjaga gaib  di setiap Sudutnya?”

Sejenak kulihat ia diam, entah apa yang ia pikirkan hingga rautnya sedikit ragu. “Wildan, Bima ini tanah bertuah, tanah keramat yang tidak semua orang memahaminya. Kepercayaan yang cukup kental membuat tanah leluhur kita begitu sakral,” tegasnya.

Ia kemudian menceritakan banyak tempat-tempat sakral di Bima, bersamanya, nuansa mistis yang kental menyelimuti. Aku langsung teringat, kakak sepupuku beberapa tahun silam pernah dirasuki raja Bima ke 38 dalam catatan Van Braam Morris, almarhum Sultan Abdul Kahir (Putra Kahi). Mereka mendatangi kuburan itu bersama kakak laki-lakiku, Dika namanya. Rumornya, ia mengambil sebongkah emas yang keluar dari rindangnya pohon bambu dan sebilah keris pusaka. Hanya saja keris itu disimpannya kembali sebagai penjaga tanah leluhurku. Namun Emas itu kemudian rupanya dibawa ke Museum Asi Mbojo untuk diserahkan kepada Bupati Bima saat itu,—H. Feri Julkarnain, ST. Jika tak salah ingat, saat itu sedang terjadi bencana menyelimuti tanah leluhur ini—Bima. Konon tempat menghilangnya salah satu prajurit andal kerajaan Goa tersebut memang tersimpan harta bekas rampasan dari penjajah Belanda. Prajurit hebat itu dikenal dengan Jalaluddin “Lambila”.

Sehabis salat Isya, aku memilih untuk tidur lebih awal. Dengan tugas yang  menumpuk esok hari, aku tidak ingin mengambil risiko kesiangan lagi sembari menyandarkan kepalaku, “Assalamualaikum…” Sosok pria paruh baya menghampiriku dengan peci rotan warna emas di kepalanya.

“Waalaikum Salam,” jawabku. Wajahnya tampak begitu familiar bagiku, dengan sedikit rasa tidak percaya, aku mengenali dirinya. Raut wajah yang selalu tersenyum dalam biasku, tiba-tiba mendatangi serasa memberikan bekal nasihat dan petuah;

Wildan ana e (Wildan anakku),

ade mori kaimu dei wawo dunia ake (dalam kehidupanmu di atas dunia ini),

 to’a pu đi Ruma labo Rasul  (taatlah kepada Allah dan Rasul),

Loa ro bae pu ade (pandai dan cerdas),

Ntiri pu kalampa nggahi (jujur),

Podapu nggahi ro paresa (adil dan bijak),

Mbani ro disa pu (bertanggung jawab dan berani),

Tenggo ro wale pu (kuat dan tangguh),

Pisa ro guna pu (berwibawa dan sakti),

Labo ndadipu londo ro mai dou ma taho (jadilah keturunan orang bermoral baik),

Kambali pu mbojo ma ntoi (kembalikan Bima yang dulu).

Sembari tangannya mengusap kepalaku, aku tersadar. “Tunggu dulu, bukannya beliau sudah wafat?” hatiku berbisik. Sejenak rasa takut dalam hatiku menggeliat, udara sekitar terasa amat dingin, aku kesulitan bergerak. Napasku begitu sesak, hingga tiga putaran ayat kursi terlewatkan. “Astagfirullah…” aku terbangun dari tempat tidurku, rupanya hanya mimpi.

CV. El-Sufi Publishing

Perusahaan penerbitan yang berkomitmen mendukung penulis dan peneliti dalam mempublikasikan karya mereka.

Alamat
Alamat : Jl. Lintas Tente-Karumbu, Desa Cenggu RT RW 03 02 Kec. Belo, Kab. Bima - NTB
©2025 CV. El-Sufi Publishing. All Rights Reserved. Published by www.asain.co.id